- Produksi Narkoba di Rumahnya, Polisi Tangkap Warga Dusun Pagelaran Karawang
- BP2MI Bongkar Penempatan 36 Calon Pekerja Migran Ilegal di Cirebon
- 21 Orang Tak Berkutik Digerebek saat Asyik Judi Sabung Ayam
- Dinkes Kota Bandung Lakukan Tes Antigen Ribuan Siswa
- KPK Klaim Sudah Telusuri Info Beking Azis Syamsuddin di Internal
- Adik Mantan Bupati Lampung Utara Diduga Terima Uang Panas Rp2,3 Miliar
- Indonesia Bungkam Malaysia, Jojo Kunci Lolos ke Semifinal Piala Thomas 2020
- 7 Santri Tewas Tenggelam 3 Hilang, Kegiatan Pramuka Susur Sungai di Cileueur
- Oknum Guru Ngaji Tega Cabuli 8 Anak Gadis di Bandar Lampung
- Ikrarnya Iblis Di Hadapan Allah Ta`ala Untuk Menipu Manusia Dengan Yang Indah-Indah
- Minuman yang Bisa Bantu Tingkatkan Fungsi Jantung
- Ketimbang Diet, Olahraga Lebih Bermanfaat untuk Umur Panjang
- Objek Wisata di Pangandaran Sosialisasikan PeduliLindungi
- Pemkot Sukabumi Percepat Vaksinasi, RS agar Rekomendasikan ODHA
- Gubernur Jabar Ungkap Rahasia Prestasi Jabar Berkat Sport Sains
Menelusuri Sumber Dana Taliban: Dari Tambang sampai Opium

Taliban mengambil alih tampuk kekuasaan pemerintahan Afghanistan usai kelompok tersebut berhasil menduduki Kabul pada 15 Agustus. Tahukah Anda, bahwa Taliban dianggap sebagai salah satu kelompok terkaya di dunia? Menurut PBB, Taliban ditaksir mendapatkan dana sekitar 400 juta dollar AS per tahun sejak 2011. Bahkan menurut penyelidikan BBC, pada akhir 2018, dana yang diperoleh Taliban kemungkinan bakal meningkat secara signifikan hingga 1,5 miliar dollar AS per tahun. Dikutip Kompas.com dari BBC, Taliban memerintah Afghanistan sejak 1996 hingga akhir 2001 setelah mereka digulingkan oleh pasukan AS dan sekutunya.
Usai Taliban digulingkan, kelompok tersebut masih melawan hingga kontrol wilayah dan kekuatan militer mereka justru menguat dalam beberapa tahun terakhir. Pada pertengahan 2021, Taliban memiliki sekitar 70.000 hingga 100.000 milisi. Jumlah tersebut naik drastis dibandingkan 10 tahun lalu yang diprediksi memiliki sekitar 30.000 milisi.
Baca Lainnya :
- UU Kekarantinaan: Pemerintah Tanggung Jawab Penuhi Kebutuhan0
- PUPR Guyur Rp1,35 T untuk Program Padat Karya Tunai Irigasi0
- Trump Sebut Puncak Kematian akibat Corona di AS 2 Pekan Lagi0
- Bank Mandiri dan BRI Berikan Kelonggaran dan Penundaan Cicilan UMKM, Nelayan, hingga Ojol0
- Lockdown Total di India Berujung Kacau0
Karena masih meneruskan perlawanan, Taliban tentu membutuhkan banyak uang. Aliran dana tersebut berasal dari berbagai sumber baik di dalam maupun dari luar Afghanistan. Taliban sebenarnya menjalankan jaringan keuangan dan sistem perpajakan yang canggih. Kelompok ini juga mengembangkan sejumlah sumber pendapatan. Lantas, apa saja pundi-pundi Taliban bersumber?
Berikut menurut laporan dari BBC:
1. Tambang Afghanistan kaya akan sumber daya alam, baik itu barang tambang maupun logam mulia. Kebanyakan dari sumber daya alam itu kurang dieksplorasi dan dieksploitasi karena konflik yang berlangsung selama puluhan tahun. Sebagian besar proses ekstraksi dilakukan dalam skala kecil dan dilakukan secara ilegal.
Taliban menguasai lokasi penambangan dan memeras uang dari operasi penambangan baik itu legal dan ilegal yang sedang berlangsung. Dalam laporan 2014, Tim Pemantau Dukungan dan Sanksi Analitis PBB melaporkan, Taliban menerima lebih dari 10 juta dollar AS per tahun dari 25 hingga 30 operasi penambangan ilegal di provinsi Helmand.
2. Perdagangan narkoba
Afghanistan adalah produsen opium terbesar di dunia, yang dapat disuling menjadi heroin. Untuk menutupi biaya operasi mereka, Taliban telah lama dianggap menjalankan sistem perpajakan bagi perdagangan seperti obat-obatan terlarang.
Opium adalah bisnis besar di sana, dengan estimasi nilai ekspor tahunan sebesar 1,5 miliar hingga 3 miliar dollar AS. Menurut sejumlah sumber, para petani opium dikenakan pajak sebesar 10 persen dari hasil budidaya mereka.
Pajak juga dibebankan untuk laboratorium-laboratorium yang mengubah opium menjadi heroin serta para pedagang yang menyelundupkan obat-obatan terlarang. Perkiraan pendapatan tahunan Taliban dari obat-obatan terlarang berkisar antara 100 juta hingga 400 juta dollar AS.
Menurut Jenderal AS John Nicholson dalam laporan khusus yang diterbitkan pada 2018, erdagangan narkoba menyumbang hingga 60 persen dari pendapatan tahunan Taliban. Namun beberapa ahli menilai angka tersebut terlalu tinggi. Taliban sering menyangkal keterlibatan mereka dalam industri obat-obatan terlarang. Mereka bahkan mengklaim adanya larangan penanaman opium selama periode kekuasaan pada 2000.
3. Aliran donasi dari luar negeri
Anda mungkin sering mendengar tuduhan sejumlah pejabat Afghanistan dan Amerika Serikat kepada negara-negara tertentu. Mereka menuduh Pakistan, Iran, dan Rusia memberikan bantuan keuangan kepada Taliban.
Namun negara-negara yang dimaksud selalu menampik tudingan itu. Dugaan donasi terbesar juga berasal dari individu-individu dari kawasan Teluk Arab termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar. Meski tidak bisa diukur secara pasti, donasi luar negeri dianggap sebagai salah satu pos terbesar dari pendapatan Taliban.
Menurut para ahli, donasi dari luar negeri bisa mencapai 500 juta dollar AS per tahun. Sebuah laporan rahasia dari intelijen AS memperkirakan, pada 2008 Taliban menerima 106 juta dollar AS dari sumber asing, khususnya dari negara-negara Teluk Arab.
4. Pajak jalur perdagangan
Melalui wilayah-wilayah yang dikuasai, Taliban menetapkan sejumlah pajak bagi siapapun yang melintas. Dalam sebuah surat terbuka pada 2018, Taliban pernah memperingatkan para pedagang Afghanistan untuk membayar pajak atas berbagai barang ketika bepergian melalui daerah-daerah yang Taliban kuasai. Barang-barang tersebut di antaranya ialah bahan bakar dan bahan bangunan.
Setelah menggulingkan pemerintah Afghanistan, Taliban sekarang mengendalikan semua rute perdagangan utama di negara itu serta pos perbatasan. Penguasaan ini menciptakan lebih banyak sumber pendapatan potensial dari impor dan ekspor.
Selama dua dekade terakhir, sejumlah besar uang Barat juga secara tidak sengaja berakhir di kantong Taliban.
Pertama, Taliban telah mengenakan pajak pada proyek pembangunan dan infrastruktur termasuk jalan, sekolah, dan klinik yang sebagian besar didanai oleh Barat.
Kedua, Taliban diperkirakan menghasilkan puluhan juta dollar AS setiap tahun dari pajak sopir truk yang menyalurkan pasokan untuk pasukan internasional yang ditempatkan di berbagai bagian negara itu. Mereka juga dianggap telah menghasilkan banyak uang bahkan dari layanan yang diberikan oleh pemerintah Afghanistan kepada rakyatnya.
Kepala Perusahaan Listrik Afghanistan mengatakan kepada BBC pada 2018 bahwa Taliban menghasilkan lebih dari 2 juta dollar AS per tahun dengan menagih para konsumen listrik di berbagai wilayah negara itu. Ada juga pendapatan yang dihasilkan langsung dari konflik. Setiap kali Taliban merebut sebuah pos militer atau pusat kota, mereka mengosongkan perbendaharaan, menyita sejumlah senjata, mobil, dan kendaraan lapis baja.[]
































