Soal Ujian Siswa SD di Sukabumi Bahas Ganja-Alat Kelamin

By Polkrim News. 11 Jun 2021, 00:26:29 WIB Pendidikan
Soal Ujian Siswa SD di Sukabumi Bahas Ganja-Alat Kelamin

SUKABUMI -Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi Melan Maulana mempersoalkan ujian Penilaian Akhir Semester II (PAT) bagi Siswa kelas V Sekolah Dasar (SD). Menurut Melan ada beberapa pertanyaan yang konteksnya belum layak dikonsumsi oleh anak usia SD.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Sukabumi Yemmy Yohani mengatakan materi tersebut sudah sesuai dengan kurikulim yang berlaku secara luas di Indonesia.

Baca Lainnya :

"Ini ada di bukunya, berlaku se Indonesia. Teman-teman guru tidak akan membuat soal di luar kurikulum, mereka akan melihat soal dari kurikulum dan memang diimplementasikan ke anak. Dulu oke, tabu bicara masalah seks kalau sekarang harus terbuka ke anak-anak. Sejak usia dini, harus terbuka. Kurikulumnya seperti itu, karena pasti dikaji oleh ahli makanya muncul buku itu," kata Yemmy, Kamis (10/6/2021).

Menurut Yemmy saat masih ada masyarakat yang menganggap hal itu masih tabu, vulgar soal materi tersebut.

"Ada sebagian masyarakat yang tabu, terbuka, vulgar ada yang menganggap oh ia ini perlu diketahui oleh anak-anak, jadi segelintir orang saja mungkin yang bahwa itu vulgar dan mereka tidak tahu bahwa di kurikulumnya ada soal seperti itu. Karena kita sekarang musim daring, jadi mereka (orang tua) hanya melihat sampai detil tidak sampai mengetahui," ujar Yemmy.

"Dan kita harus mengetahui juga, betul tidak anak itu sekolah di Kota Sukabumi. Saya sudah mengetahui (soal), kalau misalkan kecamatan satu membahas itu kecamatan lain membahas soal itu, mengacu ke situ, ke buku itu. (Soal yang beredar) Pakai kop surat kita, kalau kop dinas artinya kita yang membuatnya, ini dari mana ini?" tanya Yemmy.

Respon juga datang dari Ikatan Guru Olahraga (IGORA), melalui humas IGORA Muhammad Taufik Hidayat mengatakan soal-soal yang beredar tersebut tidak menyalahi kurikulum yang ada saat ini. Bahkan materi itu juga diajarkan kepada siswa.

"Mengenai masalah itu, pertana soal itu memang tidak bertentangan dengan kurikulum yang kita ajarkan buktinya materi itu ada dalam kurikulum dan itu ada. Materi pelajaran mengenai Napza (Narkotika Zat Adiktif) rokok, obat-obat terlarang ada dalam materi kelas V," kata Taufik.

Taufik mengaku sempat kaget saat muncul informasi kejadian munculnya soal ada di Kecamatan Warudoyong. Pria yang juga menjabat ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) Olahraga dan Ketua PC PGRI di kecamatan Warudoyong itu tidak merasa membuat soal-soal itu.

"Mengenai masalah pembuatan soal itu, sayakan di Warudoyong, untuk masalah materi soal dikoordinir oleh KKG. Kebetulan saya ketua KKG nya karena itu kan soal guru olahraga kalau di KKG Warudoyong itu soal itu dikoordinir oleh KKG saya ketuanya. Tidak merasa mengeluarkan soal seperti itu, bisa dicek datanya ada di kita," jelas Taufik.

"Saya pribadi sebagai tim editor juga yang memantau materi soal tidak merasa mengeluarkan soal isinya seperti itu. Mengenai masalah substansi soal tidak ada masalah tidak ada yang salah, yang ditanyakan itu soal zat berbahaya yang ada di dalam rokok. Jadi bukan berarti melegalkan (bahwa) ganja itu tidak berbahaya. Tapi si anak diberikan pilihan contohnya begini zat yang terkandung di dalam rokok itu satu nikotin, dua tar, tiga karbonmonoksida nah yang tidak terdapat dalam rokok apa, ganja nah ganja kan tidak ada dalam rokoknyaa bukan berarti mengarahkan si anak untuk berpikir ganja itu tidak berbahaya tidak seperti itu, jadi kalau si anak membaca materi ataupun ortu membaca materi mengenai zat yang terkandung didalam rokok itu akan tahu bahwa ganja itu di dalam kandungan rokok," paparnya.

Taufik juga berharap orang tua memantau materi yang dipelajari putra-putrinya. Ia berharap konteks persoalan menjadi multitafsir.

"Yang terjadi disini multitafsir, tergantung dari mana orang memandangnya. Kalau orang tua jeli selalu memantau materi anaknya pasti akan tahu dan paham kalau materi itu ada dalam pembelajaran anak. Bahkan tidak hanya mengenai rokok, seks edukasi pendidikan seks juga sudah diajarkan di dalam kurikulum. Tujuannya untuk menghindari hal yang tidak diinginkan contohnya pelecehan seksual, mencubit atau menyentuh kemaluan temannya, itu termasuk dalam pelecehan seksual nah si anak dikasih tau jangan sampai terjadi seperti itu bisa masuk ke dalam ranah hukum," pungkas dia.[]




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

JADWAL SHOLAT HARI INI


Kanan - Iklan 1Kanan - Iklan 2

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Berita Utama