- Pencairan Bankeu Tercium Aroma Korupsi, 10 Desa di Kab Tasik Diperiksa
- COVID-19 Menggila di Pesantren Al-Qur\'aniyyah Kabupaten Majalengka
- 159 Calon Jamaah Haji Tarik Uang Pendaftaran, Tak Ada Kepastian Jadwal Keberangkatan
- 9 Orang Meninggal Akibat COVID-19, Akibat Klaster Hajatan di Subang
- Modus Beli Bersubsidi, Oplosan Gas Elpiji di Bogor Dibongkar
- PPKM Terus Diperpanjang, Tapi Kasus COVID-19 di Cimahi Malah Naik
- Dinkes KBB Sebut Naiknya Kasus COVID-19 Usai Lebaran
- Sinergitas Lapas Garut Dengan Dinas Damkar, Tentang Penanggulangan Kebakaran
- Kapolri Terbitkan Surat Telegram Cegah Gangguan Keamanan di Kawasan Pelabuhan
- Bandar Narkoba Bersenjata AK47 dan M16 Diringkus Saat Bawa 89 Kg Sabu
- Kedubes RI di Singapura Diminta Jaksa Agung Pulangkan Andelin Lis
- Kemlu Berhasil Pulangkan 172 ABK WNI Stranded dari Fiji
- Ridwan Kamil Siapkan 3.000 Bed Tambahan, Pasien COVID-19 Terus Bertambah
- RSUD Kota Tangerang Kewalahan Tampung Pasien, Kasus Covid-19 Melonjak
- 11 Siswa Boarding School di Kota Bogor Terpapar Corona
Potensi Bisnis Bayi Tabung di Indonesia Capai Rp17,5 Triliun per Tahun

JAKARTA - Di tengah moderintas zaman yang kian membuncah, bisnis bayi tabung ternyata punya prospek atau peluang yang menjanjikan. Menurut perhitungan Morula IVF Indonesia, ada sekitar 250 ribu pasangan di Indonesia yang membutuhkan layanan bayi tabung per tahunnya.
Morula--perusahaan yang bergerak di bisnis ini--sendiri baru melayani permintaan sebanyak lima ribu bayi tabung per tahunnya. Jumlah itu didapat dari 10 cabang kliniknya yang tersebar di berbagai daerah.
"Pertumbuhannya sebesar 20% hingga 30% per tahun," kata Ivan Rizal Sini, Presiden Direktur Morula IVF Indonesia, saat acara Morula Fertility Fest di Cimanggis, Depok, Rabu (9/6/2021).
Baca Lainnya :
- Warga Banjarnegara Temukan Petai Raksasa di Hutan0
- Tukang Ojek Hingga Sopir Jangan Khawatir, Cicilannya Dilonggarkan 1 Tahun0
- Dirjen ILMATE Kemenperin Harjanto Meninggal Dunia0
- Jejak Wawalkot Yana Sebelum Positif Corona0
- Ketua KPK Respons Kritik ICW soal Minim Prestasi0
Menurut Ivan, jumlah yang ditangani Morula masih kalah jika dibandingkan dengan sejumlah negara di kawasan ASEAN, seperti Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Makanya Morulla menyatakan bahwa pihaknya memiliki perhatian besar soal ini.
"Ke depannya, kita sangat punya intensi yang besar," tambah Ivan.
Menariknya, meski di Indonesia sudah ada pelayanan kebutuhan bayi tabung, tetap saja ada sebagian warga yang memilih mengikuti program pemilikan bayi itu ke luar negeri, salah satunya ke Malaysia. Alhasil, banyak devisa yang harus keluar dari republik ini.
"Ada sekitar empat ribu pasangan yang berobat ke Malayasia. Kita membayaangkan betapa besarnya devisa yang keluar," jelas Ivan.
Mengutip situs Infertility Aide, sebuah layanan yang sama di Malaysia, tarif program bayi tabung di negeri jiran itu mencapai 18.000 ringgit atau sekitar USD4.372 (Rp62 juta). Jumlah itu belum termasuk obat dan yang lainnya. Ditambah biaya tiket pesawat, akomodasi, dan yang lainnya, tentu angkanya akan semakin membesar.
Morula sendiri mematok biaya layanan bayi tabungnya antara Rp60 juta hingga Rp70 juta, tergantung jenis layan yang diinginkan pasien. Dari situ, secara kasar Morula bisa mengantongi antara Rp300 miliar hingga Rp350 miliar per tahun.
Nah bayangkan jika ada 250 ribu pasangan yang membutuhkan layanan ini per tahunnya, maka diperkirakan potensi bisnisnya sendiri mencapai Rp15 triliun hingga Rp17,5 triliun per tahun.[]
































