- Polisi Tangkap Pelaku Pencoretan Musala `Saya Kafir` di Tangerang
- KPK Dalami Dugaan Proyek Selain RTH Bandung, Periksa Eks Pejabat Pemkot
- Emir Kuwait Syekh Sabah al-Ahmad Meninggal Dunia
- Proyek Cabut Red Notice Djoko Tjandra Dibanderol Rp10 Miliar
- Eks Sekretaris MA Nurhadi Segera Disidang
- Pejabat Positif Covid-19 Diminta Buka-bukaan
- Jabar Tawarkan 7 Proyek Siap Bangun, Genjot Investasi di Tengah Pandemi
- PN Bandung Batalkan Status Tersangka Notaris Senior di Bandung
- Warga Terkonfirmasi Positif COVID-19 di Purwakarta Capai 56 Orang
- Operasi Gabungan Protokol Kesehatan Bakal Digelar di Jabar, Catat Tanggalnya
- Pemkot Bandung Akhirnya Cabut Buka Tutup Jalan Ottista, Pascademo Pedagang
- Operasi Yustisi Digencarkan, Kasus COVID-19 di Purwakarta Cenderung Naik
- Ruang Isolasi RSUD Tasikmalaya Penuh, Sehari 33 Pasien Terkonfirmasi COVID-19
- PSK Bawa Kabur Motor Pelanggannya, Habis Begituan Enggak Dibayar
- Kades Cikampek Timur Ditangkap Jaksa Kejari Karawang, Buron 9 Bulan
Menlu: Indonesia Terima 400 Pengungsi Rohingya dalam 2 Bulan

JAKARTA -Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menyoroti meningkatnya kedatangan pengungsi manusia perahu dari etnis Rohingya. Dalam dua bulan terakhir, Indonesia sudah menerima hampir 400 pengungsi etnis Rohingya.
Hal ini diungkapkan Retno dalam pertemuan ASEAN Regional Forum (ARF) secara virtual yang dilakukan hari ini. Di situ, Retno juga membahas isu terkait Laut China Selatan serta ancaman gerakan terorisme di masa pandemi COVID-19.
"Dalam dua bulan terakhir kita telah menerima hampir 400 manusia perahu dari etnis Rohingya. Mereka masuk Indonesia terakhir tanggal 7 September setelah 7 bulan lamanya berada di lautan lepas," kata Retno dalam telekonferensi Kemlu pada Sabtu (12/9/2020).
Baca Lainnya :
- RI Dukung Perundingan Damai Afghanistan-Taliban0
- Disnaker DKI: 84 Wartawan Positif COVID-190
- Menlu Minta Bantuan India Pulangkan WNI Jemaah Tablig0
- Wabup Hengki Distribusikan Kuota Gratis, Sempat Dijegal0
- 1 RS dan 2 Puskesmas di Tasikmalaya Terpaksa Ditutup0
Retno mengingatkan pentingnya agar akar masalah etnis Rohingya di Myanmar dapat segera diatasi. Ia juga menekankan pentingnya negara di ASEAN berbagi tanggung jawab untuk mengatasi persoalan tersebut.
"Penting bagi kita untuk berbagi tanggung jawab untuk mengatasi ini. Saya kembali mengingatkan pentingnya untuk mengatasi akar masalahnya di Myanmar. Myanmar adalah rumah bagi etnis Rohingya, maka prioritas harus diberikan untuk memastikan safe, voluntary, and dignified repatriation ke Myanmar. Dan atas pertimbangan kemanusiaan, Indonesia untuk sementara menerima mereka," tegas Retno.
Sementara itu, Retno pun mengungkapkan, per 7 September 2020, Indonesia telah menerima 296 pengungsi dari etnis Rohingya. Mayoritas dari mereka adalah perempuan serta berusia di bawah 18 tahun.
"Tanggal 7 September 2020 sekitar pukul 1 dini hari, Indonesia telah menerima kembali kedatangan 296 migran etnis Rohingya di Gampong Ujong Blang, Kota Lhokseumawe. Sebanyak 296 orang irregular migrants tersebut terdiri atas 105 orang laki-laki dan 191 orang perempuan. Mayoritas berumur di bawah 18 tahun," ucap Retno.
Menurut Retno, saat ini para pengungsi tersebut berada di BLK Meunasah, Lhokseumawe. Ia mengungkapkan seluruh pengungsi itu juga sudah dinyatakan nonreaktif saat dilakukan tes rapid COVID-19.
"Seluruhnya dinyatakan nonreaktif," ungkap Retno.
Isu lainnya yang disampaikan Retno dalam pertemuan ARF adalah soal Laut China Selatan. Di situ, Indonesia kembali menekankan hukum internasional, termasuk UNCLOS 1982, harus diterapkan di wilayah perairan dan laut.
Selain itu, Retno menyoroti soal ancaman terorisme di masa pandemi COVID-19. Menurutnya, resesi dan kemiskinan akibat pandemi akan meningkatkan kemungkinan hadirnya kelompok dari gerakan terorisme.
"Saya mengangkat secara khusus ancaman terorisme dan people smuggling di masa pandemi ini. Saya ingatkan bahwa kemiskinan, resesi, akan meningkatkan potensi adanya kelompok-kelompok yang akan merekrut mereka di dalam gerakan terorisme," ujar Retno.
"Jadi untuk itulah Indonesia mengusulkan sebuah statement ARF terkait treatment of children recruited by or associated with terrorist groups, yang insyaallah dapat disepakati dan ini menjadi hasil dari temuan ARF," imbuhnya.[]

































