- Polisi Tangkap Pelaku Pencoretan Musala `Saya Kafir` di Tangerang
- KPK Dalami Dugaan Proyek Selain RTH Bandung, Periksa Eks Pejabat Pemkot
- Emir Kuwait Syekh Sabah al-Ahmad Meninggal Dunia
- Proyek Cabut Red Notice Djoko Tjandra Dibanderol Rp10 Miliar
- Eks Sekretaris MA Nurhadi Segera Disidang
- Pejabat Positif Covid-19 Diminta Buka-bukaan
- Jabar Tawarkan 7 Proyek Siap Bangun, Genjot Investasi di Tengah Pandemi
- PN Bandung Batalkan Status Tersangka Notaris Senior di Bandung
- Warga Terkonfirmasi Positif COVID-19 di Purwakarta Capai 56 Orang
- Operasi Gabungan Protokol Kesehatan Bakal Digelar di Jabar, Catat Tanggalnya
- Pemkot Bandung Akhirnya Cabut Buka Tutup Jalan Ottista, Pascademo Pedagang
- Operasi Yustisi Digencarkan, Kasus COVID-19 di Purwakarta Cenderung Naik
- Ruang Isolasi RSUD Tasikmalaya Penuh, Sehari 33 Pasien Terkonfirmasi COVID-19
- PSK Bawa Kabur Motor Pelanggannya, Habis Begituan Enggak Dibayar
- Kades Cikampek Timur Ditangkap Jaksa Kejari Karawang, Buron 9 Bulan
52 Pekerja Migran Terlantar di Arab Saudi Dipulangkan ke Tanah Air

JAKARTA--Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menjemput langsung 52 Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang terlantar di Arab Saudi.
"Setelah viral di Media Sosial terlantar di Arab Saudi, sebanyak 52 PMI bermasalah, malam ini kami pulangkan," kata Benny di Tangerang, Jumat (11/9/2020).
Para PMI dipulangkan setelah diketahui berangkat melalui jalur non prosedural, mereka juga diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Baca Lainnya :
- Kementan Sita 41 Ribu Unggas Ilegal Pembawa Penyakit0
- Bank BRI Berikan Kemudahan Cicilan Kepada Peserta JKN–KIS0
- Kejagung Tangkap Terpidana Penipu Jual Beli Lahan Rp 1 M di Surabaya0
- Kades yang Viral Gegara Tubuhnya Penuh Tato0
- Saudi Tangkap Ulama, FPI Harap Hubungan Habib Rizieq-Kerajaan Tetap Baik0
"Dalam video unggahan di youtube, para para PMI terlantar di Arab Saudi, akibat tidak diberikan gaji dari majikannya selama bekerja sejak tahun 2018 silam. Para PMI juga menuntut agency yang menjadi penyalur agar haknya diberikan," jelas dia.
Setelah mendapat informasi tersebut, BP2MI langsung berkordinasi dengan Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) Arab Saudi, untuk memulangkan para pahlawan devisa ke tanah air.
Lalu, setelah para PMI itu tiba di Terminal 3 Soetta, para petugas langsung memeriksa satu persatu. Dari 21 data yang ada, dalam pelaksanaannya petugas mendapati 31 pekerja migran yang juga tidak ada dalam daftar atau bermasalah.
Pada 2018 para PMI tersebut diberangkatkan oleh Perusahan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) El-Safah, Putra Timur Mandiri, dan Anugrah Sumber Rezeki. Mereka bekerja sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT).
Menindaklanjuti, BP2MI akan segera melaporkan ke Bareskrim Polri, karena perusahaan tersebut merupakan penyalur ilegal, yang diduga melakukan tindak TPPO.
Selanjutnya sebelum dipulangkan ke daerah asalnya, para PMI ini akan didata untuk menjalani karantina sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19.
Selama pandemi Covid-19 atau sejak Januari hingga Agustus 2020, sudah 176 ribu Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang kembali ke tanah air. Namun, pengiriman pahlawan devisa negara ini, masih tertahan.
"Efek domino COVID-19 ini tren angka kepulangan tinggi, kita sudah menangani sejak 1 Januari sampai 31 Agustus 2020, sekitar 176 ribu disetiap pintu debarkasi pelabuhan dan bandara di indonesia dari seluruh negara penempatan," ujar Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Rhamdani, di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Jumat (4/9/2020).
Selama ini, bila ada pekerja migranyang kembali dalam keadaan sakit atau dicurigai tertular Covid-19 dari negara penempatan, maka akan langsung ditangani terlebih dulu oleh petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Kemudian akan dirujuk ke Wisma Atlet atau rumah sakit rujukan pemerintah untuk penanganan Covid-19.
"Selama ini sebelum pandemi pun, 200an kembali dalam keadaan sakit langsung dirujuk ke rumah sakit Polri, negara merawat mereka sampai sembuh, lalu memulangkannya ke kampung halaman," tutur Benny.
Pemulangan atau repatriasi pekerja migranakan tetap terus berlanjut, selama pandemi masih berlangsung. Benny mengaku, keselamatan PMI di berbagai negara penempatan sangatlah diprioritaskan.[]

































