- 1 Tewas dan 2 Buruh Luka Berat, Mesin Pemanas Uap di PT HJ Busana Meledak
- Jabar Hapus Denda dan Beri Diskon Pajak Kendaraan Bermotor
- Ridwan Kamil Sambut Baik Hibah 121 Ribu Dosis Vaksin Sinopharm dari Raja Uni Emirat Arab
- Anggota Ormas Bentrok 2 Orang Ditusuk, Darah Tertumpah di Jalanan
- Rumah Makan Kari Am di Jalan Jalur Lingkar Selatan Kota Sukabumi Ludes Terbakar
- KPK Diminta Ungkap Inisial HK di Kasus Korupsi Bansos Bandung Barat
- Ridwan Kamil Usulkan Pengetatan Mikro, BOR Rumah Sakit COVID-19 Jabar Turun Drastis
- Maki Desak Dipindah ke Lapas Wanita, Pinangki Masih Ditahan di Kejagung
- Satu Warga Sumba Timur Tewas Dibunuh, Tiga Orang Luka Berat dan Ringan
- Mances Pelaku Permerkosa Gadis 15 Tahun Ditangkap Polisi Setelah Satu Tahun Kabur
- Pria Stres Minta Uang Rp10 Juta di Minimarket dan Tantang Polisi di Pamulang
- Dirut dan Komut PT ASA Ditetapkan sebagai Tersangka,Timbun Obat Covid-19
- Rafael Lulus Tes Calon Bintara Polri Tapi Namanya Dihapus, Akhirnya Diterima di Gelombang II Tahun 2022
- Diduga Selingkuhan Suaminya, Wanita di Makassar Tikam Mahasiswi
- Bupati dan Wabup Bandung Retak, Sahrul Gunawan: Saya Tak Pernah Dilibatkan
WHO: Lockdown Saja tak Cukup untuk Kalahkan Virus Corona

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan bahwa lockdown semata tidak cukup untuk mengalahkan virus corona. Ahli kedaruratan WHO mengatakan, di samping penguncian pergerakan warga, diperlukan langkah-langkah kesehatan masyarakat guna menghindari kebangkitan virus di kemudian hari.
"Yang benar-benar perlu menjadi fokus kita adalah menemukan mereka yang sakit, mereka yang terinfeksi virus dan mengisolasi mereka, menemukan orang yang ada kontak dengan mereka dan mengisolasinya," kata Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO Mike Ryan dalam sebuah wawancara di BBC Andrew Marr Show.
Menurut Ryan, ada bahaya di balik karantina wilayah tanpa dibarengi penerapan langkah-langkah kesehatan masyarakat yang kuat. Ia mengkhawatirkan risiko kemunculan kembali Covid-19 ketika batasan pergerakan dan karantina itu dicabut.
Baca Lainnya :
- Bogor, Depok, Bekasi terbanyak kasus COVID-19 di Jawa Barat0
- Ridwan Kamil Jenguk Bima Arya 0
- Banyak Petugas Medis Meninggal, Maia Estianty Mengajak Donasi untuk Membeli APD0
- Artis Andrea Dian Positif Corona Covid-190
- Kapolri Perintahkan Tindak Tegas Pembuat Keramaian0
Sebagian besar Eropa dan Amerika Serikat menyusul langkah yang diambil China dan negara-negara Asia lainnya. Mereka memberlakukan pembatasan drastis untuk memerangi virus corona baru dengan sebagian besar pekerja diperintahkan bekerja dari rumah dan sekolah, bar, pub, dan restoran ditutup.
Ryan mengatakan bahwa contoh-contoh dari China, Singapura, dan Korea Selatan, yang ditambah pembatasan dengan langkah-langkah keras untuk menguji setiap orang yang mungkin terinfeksi, memberikan model untuk Eropa. Menurut WHO, kini Eropa telah menggantikan Asia sebagai pusat pandemi.
"Setelah kita menekan penularan, kita harus mengejar virus. Kita harus berjuang melawan virus," kata Ryan.
Italia sekarang menjadi negara yang paling parah terdampak virus di dunia. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah memperingatkan bahwa sistem kesehatan Inggris bisa kewalahan kecuali orang menghindari interaksi sosial.
Menteri perumahan Inggris Robert Jenrick mengatakan bahwa produksi alat tes akan berlipat ganda minggu depan dan meningkat setelahnya. Ryan juga mengatakan bahwa beberapa vaksin sedang dikembangkan, tetapi hanya satu yang telah memulai uji coba di Amerika Serikat. Ketika ditanya berapa lama sebelum tersedia vaksin di Inggris, dia mengatakan bahwa orang-orang perlu realistis.
"Kami harus memastikan bahwa vaksin itu benar-benar aman ... kami memperkirakan setidaknya satu tahun," kata dia.
"Vaksin akan datang, tetapi kita harus bereaksi dan melakukan apa yang perlu kita lakukan sekarang," ujar Ryan.[]

































