Studi: Risiko Usia di Bawah 20 Terinfeksi Corona Lebih Rendah

By Polkrim News 19 Jun 2020, 01:28:22 WIB Kesehatan
Studi: Risiko Usia di Bawah 20 Terinfeksi Corona Lebih Rendah

Jakarta, --Anak-anak dan remaja atau orang yang berusia di bawah 20 tahun disebut memiliki risiko lebih rendah terinfeksi virus corona (Covid-19). Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine mendapati risiko orang di bawah 20 tahun terinfeksi virus penyebab Covid-19 lebih rendah 50 persen atau setengah kali lebih kecil dibanding orang yang berusia di atas 20 tahun.

Penelitian para ahli epidemiologi London School of Hygiene and Tropical Medicine tersebut menganalisis model penularan untuk memperkirakan kerentanan penyakit terhadap usia seseorang, dengan kasus yang ada.

Berdasarkan data epidemi di sejumlah negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, Italia, Kanada, dan Singapura, peneliti mendapati kerentanan anak-anak terjangkit Covid-19 dari kontak dengan orang yang terinfeksi, lebih rendah. Mereka juga mengalami penyakit yang tak begitu parah.

Baca Lainnya :

Para peneliti memperkirakan, gejala klinis Covid-19 bermanifestasi pada 21 persen orang yang berusia 10-19 tahun. Jumlah itu meningkat pada orang yang berusia 70 tahun yakni sekitar 69 persen.

Meski relatif kecil, peneliti menyarankan agar pemerintah atau pembuat kebijakan mempertimbangkan kembali pembukaan sekolah demi mencegah penyebaran virus corona.

"Oleh karena itu, kami menemukan bahwa intervensi yang ditujukan untuk anak-anak mungkin memiliki dampak yang relatif kecil pada pengurangan penularan SARS-CoV-2 (nama ilmiah virus corona), terutama jika penularan infeksi subklinis rendah," tulis peneliti dalam studi mereka.

Dikutip dari CNN, hasil studi ini serupa dengan temuan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengatakan bahwa anak-anak yang didiagnosis dengan Covid-19 di AS memiliki kasus yang ringan.

Peneliti mengatakan diperlukan lebih banyak penelitian tentang penularan infeksi yang disebabkan oleh orang tanpa gejala (OTG).

Kendati kerentanan kelompok muda lebih rendah, dokter spesialis penyakit dalam Zubairi Djoerban mengingatkan untuk tetap waspada. Kendati menunjukkan gejala yang lebih ringan, bukan berarti kelompok muda terbebas dari segala risiko.

"Sekarang kalau yang orang tua itu gawat karena saluran pernapasan, maka kalau yang muda itu kena stroke," terang Zubairi yang juga Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

Zubairi menerangkan, kasus di beberapa negara telah menunjukkan bahwa kelompok muda memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat, tapi bukan berarti kebal. Sekalipun, gejala yang mungkin muncul akan cenderung ringan.

Sementara dalam kesempatan lain Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan agar pemerintah melanjutkan skema pembelajaran jarak jauh setidaknya hingga Desember 2020. Ini karena perkembangan penyebaran infeksi virus corona di Indonesia belum sungguh-sungguh bisa dikendalikan.

Ketua IDAI, Aman Pulungan dalam keterangan tertulis pada pengujung Mei khawatir pelonggaran kebijakan pembatasan aktivitas yang tak tepat waktu justru akan menimbulkan lonjakan kasus pada anak-anak.

"Dengan memperhatikan jumlah kasus konfirmasi Covid-19 yang masih terus bertambah, mulai melonggarnya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) kemungkinan terjadi lonjakan jumlah kasus kedua, dan masih sulitnya menerapkan pencegahan infeksi pada anak-anak," ungkap Aman menjelaskan konteks kasus Covid-19 di Indonesia.[]




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

JADWAL SHOLAT HARI INI


Kanan - Iklan Sidebar2Kanan-Iklan PTQB RQV Indonesia

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Berita Utama