Penderita Hepatitis Tidak Harus Selalu Minum Obat

By Polkrim News 30 Jun 2020, 14:04:46 WIB Kesehatan
Penderita Hepatitis Tidak Harus Selalu Minum Obat

Hepatitis merupakan infeksi hati karena virus. Di Indonesia, tiga penyebab penyakit hati tertinggi ialah hepatitis B, C, dan NAFL atau nonalcoholic fatty liver disease. Pasien dengan penyakit hati kronis harus dipantau dan kontrol secara teratur.

Meski begitu, tidak semua penderita hepatitis harus mengonsumsi obat antivirus demi mengenyahkan penyakitnya itu.

"Walau obat ada di apotik, tidak semua pasien harus mendapatkan obat antivirus. Pasien yang diberikan obat harus memenuhi kriteria indikasi," kata dokter spesialis penyakit dalam yang merupakan anggota Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Dr. Irsan Hasan, dalam sebuah webinar, Jumat (26/6/2020).

Baca Lainnya :

Hal ini berarti ada pasien yang hanya diobservasi oleh dokter karena virus hepatitis di tubuhnya dianggap tidur, dan ia tidak memerlukan pengobatan.

"Kalau diberi obat, siap-siap antivirus diberikan bertahun-tahun dan ada kemungkinan seumur hidup," kata Irsan.

Adapun indikasi yang mengharuskan pasien mendapatkan pengobatan dan merupakan hasil pemeriksaan dokter, salah satunya jika alanin aminotransferase/ALT normal yang didapat dari tes pengukuran enzim SGPT di dalam darah.

Enzim SGPT merupakan indikator yang sensitif terhadap kerusakan hati. Enzim ini digunakan untuk mengindentifikasi penyakit hati selama lebih dari 50 tahun.

Pada bayi yang terinfeksi hepatitis B, dia berisiko 90 persen menderita hepatitis kronis. Dia akan mengidap hepatitis bertahun-tahun, bahkan sampai meninggal dunia. Sementara bila yang tertular orang dewasa, maka kemungkinannya menjadi kronis sekitar 10 persen.

Hepatitis kronis biasanya baru terdeteksi jika sudah terjadi komplikasi, salah satunya sirosis atau pengerasan hati. Untuk itu, deteksi dini yang bisa dilakukan satu-satunya melalui tes darah.

"Mau enggak mau tes darah, periksa HbsAg dan Anti HBs. Kalau HbsAg positif berarti dia sakit. Kalau Anti HBs positif berarti dia sudah punya kekebalan," tutur Irsan.

Lakukan Pencegahan Hepatitis B

Agar terhindar dari virus hepatitis B, ada baiknya kita juga menjaga kesehatan hati dengan konsumsi makanan sehat berikut.

Penyakit hepatitis B disebabkan oleh virus yang juga disebut dengan virus hepatitis B (HBV). Virus yang sangat menular ini paling banyak ditemukan di Asia Timur dan Afrika sub-Sahara.

Tetapi, sebanyak 57% di antaranya ternyata berasal dari Indonesia, Cina, India, Nigeria dan Filipina. Di Republik Afrika Tengah, sekitar 12,1% dari populasi diperkirakan terinfeksi virus, sementara di Taiwan angkanya mencapai 9,4%.

Menurut profesor kedokteran emeritus di Institut UCL untuk Kesehatan dan Pencernaan dan Rumah Sakit King's College, Geoffrey Dusheiko, penyakit ini adalah silent killer.

"Hepatitis B kronis merupakan penyebab utama kanker hati tetapi menyebabkan penyakit hati yang diam," ujar Dusheiko, melansir The Guardian.

"Penyakit ini dapat tetap diam dan karenanya tak terdiagnosis selama beberapa dekade, sampai gejala pertama kali muncul di usia dewasa muda atau paruh baya dengan sirosis dekompensasi, gagal hati, atau karsinoma hepatoseluler," sambungnya.

Lakukan Pencegahan Hepatitis B, Coba Konsumsi Makanan Ini - 1

Hepatitis ini juga bisa menginfeksi ibu hamil. Kondisi itu tentu saja pada akhirnya dapat menularkannya ke buah hati mereka.

Vaksin yang memberikan kekebalan seumur hidup sebenarnya sudah tersedia, tetapi hanya setengah dari semua bayi yang menerimanya secara global. Sayangnya, hanya kurang dari 1% dari semua ibu dengan infeksi hepatitis B sehingga menjadi sumber utama infeksi dan berisiko tinggi menularkan virus ke anak-anak mereka yang menerima perawatan secara tepat.

Oleh karena itu, perlu kita lakukan pencegahan agar terhindar dari silent killer ini. Salah satunya dengan mengonsumsi beberapa makanan yang dapat melindungi hati.

"Tidak ada diet khusus untuk hepatitis," kata Keri Gans, RD, seorang ahli diet di New York City dan juru bicara American Dietetic Association.

"Seseorang dengan hepatitis hanya perlu mengikuti diet yang sehat dan seimbang," lanjutnya.

Diet atau pola makan tersebut harus mencakup:

    Banyak buah dan sayur

    Biji-bijian utuh seperti gandum, beras merah, gandum dan quinoa

    Protein tanpa lemak seperti ikan, ayam tanpa kulit, putih telur dan kacang-kacangan

    Produk susu rendah lemak atau non-lemak

    Lemak sehat seperti yang ada di kacang, alpukat dan minyak zaitun.

"Saya memberi tahu klien saya untuk menggambarkan piring makan.  Seperempat piring harus mengandung karbohidrat serat tinggi seperti biji-bijian, seperempat harus mengandung sumber protein tanpa lemak, dan sisanya harus mengandung buah-buahan dan sayuran," jelas Gans, melansir Everyday Health.

Guna membantu tubuh memproses makanan dan fungsi dengan lebih baik, kita juga perlu memastikan minum banyak cairan, dan utamakan air mineral.[]




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

JADWAL SHOLAT HARI INI


Kanan - Iklan Sidebar2Kanan-Iklan PTQB RQV Indonesia

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Berita Utama